Ilustrasi Puskesmas (sumber: prokalteng.co)

banner 728x90

pakrw.com - Seorang bapak (Bapak Karimun biasa dipanggi Pak Kar) berusia sekitar 60 tahun didampingi istrinya (Ibu Maya) yang tidak kalah kurusnya dengan Pak Kar. Menunggu tertib dalam antrian lorong panjnag Puskesmas.

Lorong yang tak pernah sepi, setiap harinya ratusan orang mengantri demi untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang terjangkau oleh kantong tipis mereka. Kulit legam dan kerangka tulang yang terpampang cukup menggambarkan tentang bagaimana perjuangan Pak Kar, berperang melawan hegemoni nasib. Ototnya yang kekar telah tergantikan oleh beberapa nasi bungkus. Tangannya senantiasa mengepal sebagai simbol kegigihannya untuk melawan takdir. tak terbesit sedikitpun kata menyerah dalam tatapan matanya yang datar. Takdir buruk telah menghidupkannya dalam dunia yan pahit.

Hari ini Pak Kar terkulai di bangku panjang Puskesmas, tangan kasarnya meremas erat lambung, bibir bagian bawahnya digigit sendiri menahan sakit, Nasib telah melukainya. Merangsak terus bergeser mengikuti antrian.

Tibalah giliran bagi Pak Kar memasuki kamar 3x3 meter itu. Sebuah ranjang dengan sepray putih yang mulai agak kecoklat-coklatan, lemari obat denagn berbagai label, meja, kursi, serta berbagai peralatan rumah sakit yang tertata apa adanya menghiasi kamar.

Gadis muda dengan senyum yang begitu anggun duduk dibelakang meja, kacamata frame tipis menunjukkan kesan kecerdasan otaknya. Berbasa-basi sebentar, "silahkan berbaring pak, biar saya periksa.." dengan alat ditancapkan ditelinga seperti walkman dan ujung yang lain memeriksa dada Pak Kar, dokter cantik itu mulai beraksi. "bapak.. makannya harus teratur yah" Dokter muda itu mengakhiri aksinya sambil menyodorkan obat kepada Pak Kar

Pak Kar keluar dengan kehampaan yang sama sekali tidak berubah seperti saat akan masuk kamar itu. Entah apa yang dipikirkan, digenggamnya erat obat dari dokter, berjalan gontai dengan dibopong Ibu Maya meninggalkan lorong Puskemas yang masih penuh dengan antrian.

Diperjalanan pulang Pak Kar memberikan obat itu pada istrinya "..ini bu kumpulkan dengan obat yang kemarin-kemarin..". Ibu Maya meraba tasnya, mengeluarkan bugkusan obat yang sama dengan yang bapak terima hari ini, hanya saja obat obat yang dikeluarkan Ibu Maya telah terpakai beberapa.

Hanya beberapa butir obat saja yang terpakai, tidak habis. rupanya bukan kali ini saja Pak Kar datang ke Puskesmas. Sudah 3 (tiga) kali Pak Kar datang ke puskesmas dengan penyakit yang sama, pulang dengan membawa obat yang sama, dan dengan tulisan yang sama pada plastik pembungkus obatnya "DIMINUM 3 (TIGA) KALI SEHARI SETELAH MAKAN".

Itu lah makna kehampaan Pak Kar. Bukan karena jarang minum obat Pak Kar tidak sembuh dari penyakitnya melainkan karena syarat saat akan meminum obat itu.

Catatan Moral Pak RW : "Berbahagialah jika kamu dapat makan 3 (tiga) kali sehari karena kamu telah memenuhi standart hidup sehat. Dan usahlah bersedih jika kamu hanya bisa makan 3 (tiga) hari sekali karena kamu tidak sendirian."

banner 300x250

Berita Terkait