SURABAYA – Lima tahun pascamerger Pelindo menjadi momentum PT Terminal Teluk Lamong (TTL) untuk melakukan perubahan menyeluruh terhadap pola kerja dan layanan operasional.
Bagi TTL, merger bukan sekadar perubahan struktur organisasi. Integrasi tersebut menjadi momentum untuk membangun cara kerja yang lebih terintegrasi dan memperkuat standardisasi pelayanan.
Berbagai improvement dilakukan mulai dari proses operasional, produktivitas peralatan, pelayanan kapal hingga digitalisasi.
Perubahan tersebut juga diarahkan untuk meningkatkan pengalaman pengguna jasa melalui pelayanan yang lebih cepat, efektif dan efisien.
Direktur Utama PT Terminal Teluk Lamong David Pandapotan Sirait mengatakan, perjalanan lima tahun tersebut menjadi proses membangun fondasi operasional yang semakin kuat.
“Kami tidak hanya tumbuh dari sisi volume, tetapi juga terus membangun fondasi operasional yang semakin terintegrasi, produktif, dan berorientasi kepada pelanggan,” ujar David.
Transformasi tersebut terlihat dari berbagai inovasi yang diterapkan TTL.
Pada pelayanan kapal, perusahaan berhasil memangkas rata-rata waktu tunggu dari 6,67 jam menjadi 1,83 jam.
Di sisi layanan darat, TTL menerapkan Terminal Booking System sejak 2025 untuk mengatur kedatangan truk sekaligus mengendalikan Truck Round Time.
Sementara pada 2026, TTL mengimplementasikan EAZI untuk mempercepat pelayanan kapal di area labuh.
Transformasi juga semakin diperkuat setelah TTL mengelola tiga terminal peti kemas, yakni TPK Teluk Lamong, TPK Nilam, dan TPK Berlian.
“Transformasi bagi kami bukan satu proyek besar yang berdiri sendiri, tetapi rangkaian continuous improvement,” kata David.
TTL akan melanjutkan proses tersebut melalui penguatan integrasi, digitalisasi, produktivitas, dan inovasi operasional.***